Powered By Blogger
Feeling, Writing, and Sharing...
Peek-a-Boo to My Notes

Dari Film Dilan 1990 sampai ke Mojang dan Jajaka Bandung

Saturday, April 28, 2018


"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu, gak tahu kalau sore. Tunggu aja" - Dilan 1990



Dilan 1990 Milea Scene Naik Motor
Scene Buah Batu - Dilan 1990



Dimulai dari Film Cinta Anak SMA
Waktu lagi jamannya demam film “Dilan 1990” dan dimana-mana setiap obrolan pasti dikit-dikit nyelip bahasan (dan gombalan) tentang Dilan…. Setting tempatnya yaitu kota Bandung, juga gak luput masuk dalam topik obrolan.


Sosok Milea di film itu memang  diceritakan bukanlah gadis asli Bandung. Tapi, kecantikannya sukses membuat beberapa teman di kantor (yg pastinya laki-laki) ngefans mendadak sama pemerannya Milea; Vanesha Prescilla. Aah.. Geulis pisan~ kata mereka

Gue hanya bisa terbengong-bengong (?) 
Iya, itu betul. Dia cantik. Tapi, gue harus banget ikut euphoria cowok-cowok itu? Mereka apa gak ngomongin Dilan-nya juga gitu? Hahaha

What I think "Beneran itu Iqbal CJR yang dulu nyanyi 'Kau Bidadari... Eaaa... Eaaa...' ? Sekarang jadi kece juga yaa. Puberty hits him hard" *efek sekolah and gawl di US jg kali ya*

Dari bahasan dan nostalgia beberapa orang tentang kota yang letaknya terbilang masih deketan dengan Jakarta ini, munculah topik:

Urang Sunda itu banyak yang geulis pisan kalo cewek dan kasep pisan kalo cowok

Salah seorang teman kantor yang pernah lama sekolah di Bandung mengeluarkan pendapat itu.

Kota Kembang – Dari Kembang Desa sampai Flower Boys

Mayoritas suku Sunda memang menghuni kota Bandung. Jadi, mungkin dari sanalah asal-usul mitos yang bilang Bandung tuh salah satu pusat pasokan cewek cantik di Indonesia. Banyak kembang desanya, euy! Buat ladies, katanya ya cowok Bandung juga terkenal garanteng, kasep-kasep euy. Cowo kekinian kota Bandung gak kalah saing bila dibandingkan dengan oppa Korea (oppa berkearifan lokal) :p

Walau gua gak meng-iya-kan secara langsung karena itu jatohnya seperti stereotype dan gua gak mau judge suku bangsa tertentu berdasarkan fisiknya, Tapi dalam hati, gue ngebenerin juga sih.

*Dalam hati* Iya juga. So far dalam hidup gua, ada beberapa teman, kenalan, atau orang sekedar kenal yang asalnya dari Bandung, asli keturunan Sunda. Fyi, chance buat kenal orang Bandung memang terbuka secara gue bekerja di Jakarta, ibukota yang jadi tempat berkumpul dan cari nafkah warga dari seluruh daerah Indonesia. Bandung pun jadi salah satu kota besar terdekat yang warganya banyak merantau ke Jakarta. Memang sih dari semua kenalan gue yang orang Bandung itu, cewek or cowoknya secara tampang gak ada yang jelek banget (well, paras itu relative & bukan value utama untuk menilai seseorang) Tapi, mungkin faktor kebetulan, ada 1 kesamaan mutlak dari semua orang yang gue temuin itu: Mereka itu putih-putih, at least berkulit kuning langsat.


Standar Kesempurnaan vs Karakteristik orang Sunda

Disclaimer: Ini bukan generalisir orang keturunan Sunda dan bukan mendeskriditkan suku bangsa lainnya, dan bukan body shamming buat orang Sunda yang hitam manis or sawo matang.

…..

Itu selera lu aja kali, demen yang putih-putih?

Actually, ini preferensi mayoritas orang Asia

Disadari atau tidak, standar kesempurnaan lahiriah bagi sebagian besar orang Asia, termasuk Indonesia itu salah satunya masih diukur dari tingkat kecerahan warna kulit alias orang berkulit putih lah (putih khas Asia) yang bagi orang Indonesia dianggap cantik or ganteng. Gak heran kan, banyak produk kecantikan yang menebar janji-janji surga bisa membuat kulit tampak lebih putih dalam sekian hari lah, dalam sekian bulan lah. Walaupun, faktanya kulit itu sebenarnya gak bisa diputihkan (kecuali ada intervensi kimiawi dalam dosis tinggi, misalnya suntik pigmen mungkin) Tapi, kulit itu bisa dicerahkan sehingga kalau kulit lebih cerah merona akan terlihat ‘seolah’ lebih putih.

Kenapa gua jadi sotoy bak ahli dermatology, ya? Ahaha

They have cute yet friendly dialect

Tingkat kecantikan dan kegantengan itu juga bertambah karena didukung karakteristik bawaan khas orang Sunda, salah satunya yaitu tutur bicara yang sopan, ramah, dan logat khas Sunda yang agak mengayun… Err. Apa ya istilahnya. Mendayu-dayu(?) Pokoknya dengerin deh orang Sunda yang masih kental logatnya kalau lagi ngomong. Terkesan ramah dan kadang ada juga yang jadi kedengaran jenaka (apalagi kalau emang lagi ngelawak atau ngambek ala2, kalo gue dengernya jadi tambah lucu)

Pengucapan logat Sunda yang lebih ‘bergelombang’ itu berbeda dengan pengucapan logat Jawa yang lebih ada ‘penekanan’. Walaupun kedua suku ini memang sama-sama lekat dengan stereotype kesopanannya atau toto kromonya dan secara geografis sama-sama bermukin di Pulau Jawa. Fyi, Kalau orang Jawa yang saat berbicara masih kental logatnya sering disebut Jowo medok (medok=kental)

So, kesimpulannya...


Ladies bisa terkesan bin terbuai dengan keramahan, ketampanan, dan humorisnya sang Jajaka dari tanah Pasundan. 

Para gentlemen mungkin tergoda dengan kesopanan, suara mendayu-dayu(?) nan lembut dan paras putih ayu nan sendu dari si Mojang Priangan.

Konon katanya yaaa…

Seperti ituuh *ala Syahrini*

Betul begitu, sodara-sodara?

Gue pun so far belum pernah terpikat cowok Sunda *thinking* Tapi, bisa jadi juga….

…Soalnya, jodoh dan jatuh cinta itu gak melulu spesifik terfokus ke suku bangsa atau ras tertentu #Eeeaaa



Tulisan ini muncul karena fenomena Dilan + hasil riset kilat via mbah Gugel

Review Film Dilan 1990 kapan-kapan aja ya (kalo inget), karena gua lagi males posting yang kepanjangan *sleepy eyes* (=__=)

Fyi lagi,
Waktu post ini, demam Dilan udah agak mereda, sih

0 comments:

Post a Comment

Komentar Anda