"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu, gak tahu kalau sore. Tunggu aja" - Dilan 1990
| Scene Buah Batu - Dilan 1990 |
Dimulai dari Film Cinta Anak SMA
Waktu lagi jamannya demam film “Dilan 1990”
dan dimana-mana setiap obrolan pasti dikit-dikit nyelip bahasan (dan gombalan) tentang Dilan….
Setting tempatnya yaitu kota Bandung, juga gak luput masuk dalam topik obrolan.
Sosok Milea di film itu memang diceritakan bukanlah gadis asli Bandung. Tapi, kecantikannya sukses membuat beberapa teman di kantor (yg pastinya laki-laki) ngefans mendadak sama pemerannya Milea; Vanesha Prescilla. Aah.. Geulis pisan~ kata mereka
Gue hanya bisa terbengong-bengong (?)
Iya, itu betul. Dia cantik. Tapi, gue harus banget ikut euphoria cowok-cowok itu? Mereka apa gak ngomongin Dilan-nya juga gitu? Hahaha
What I think "Beneran itu Iqbal CJR yang dulu nyanyi 'Kau Bidadari... Eaaa... Eaaa...' ? Sekarang jadi kece juga yaa. Puberty hits him hard" *efek sekolah and gawl di US jg kali ya*
Dari bahasan
dan nostalgia beberapa orang tentang kota yang letaknya terbilang masih deketan
dengan Jakarta ini, munculah topik:
Urang Sunda itu banyak yang geulis pisan kalo cewek dan kasep pisan kalo
cowok
Salah seorang teman kantor yang pernah
lama sekolah di Bandung mengeluarkan pendapat itu.
Kota Kembang – Dari Kembang Desa sampai Flower Boys
Mayoritas suku Sunda memang menghuni
kota Bandung. Jadi, mungkin dari sanalah asal-usul mitos yang bilang Bandung
tuh salah satu pusat pasokan cewek cantik di Indonesia. Banyak kembang desanya,
euy! Buat ladies, katanya ya cowok Bandung juga terkenal garanteng, kasep-kasep
euy. Cowo kekinian kota Bandung gak kalah saing bila dibandingkan dengan oppa
Korea (oppa berkearifan lokal) :p
Walau gua gak meng-iya-kan secara
langsung karena itu jatohnya seperti stereotype dan gua gak mau judge suku
bangsa tertentu berdasarkan fisiknya, Tapi dalam hati, gue ngebenerin juga sih.
*Dalam hati* Iya juga. So far dalam
hidup gua, ada beberapa teman, kenalan, atau orang sekedar kenal yang asalnya
dari Bandung, asli keturunan Sunda. Fyi, chance buat kenal orang Bandung memang
terbuka secara gue bekerja di Jakarta, ibukota yang jadi tempat berkumpul dan
cari nafkah warga dari seluruh daerah Indonesia. Bandung pun jadi salah satu
kota besar terdekat yang warganya banyak merantau ke Jakarta. Memang sih dari semua
kenalan gue yang orang Bandung itu, cewek or cowoknya secara tampang gak ada
yang jelek banget (well, paras itu relative & bukan value utama untuk
menilai seseorang) Tapi, mungkin faktor kebetulan, ada 1 kesamaan mutlak dari
semua orang yang gue temuin itu: Mereka itu putih-putih, at least berkulit kuning
langsat.
Standar Kesempurnaan vs Karakteristik orang Sunda
Disclaimer: Ini bukan generalisir
orang keturunan Sunda dan bukan mendeskriditkan suku bangsa lainnya, dan bukan
body shamming buat orang Sunda yang hitam manis or sawo matang.
…..
Itu selera lu aja kali, demen yang putih-putih?
Actually, ini preferensi mayoritas
orang Asia
Disadari atau tidak, standar
kesempurnaan lahiriah bagi sebagian besar orang Asia, termasuk Indonesia itu
salah satunya masih diukur dari tingkat kecerahan warna kulit alias orang
berkulit putih lah (putih khas Asia) yang bagi orang Indonesia dianggap cantik
or ganteng. Gak heran kan, banyak produk kecantikan yang menebar janji-janji
surga bisa membuat kulit tampak lebih putih dalam sekian hari lah, dalam sekian
bulan lah. Walaupun, faktanya kulit itu sebenarnya gak bisa diputihkan (kecuali
ada intervensi kimiawi dalam dosis tinggi, misalnya suntik pigmen mungkin)
Tapi, kulit itu bisa dicerahkan sehingga kalau kulit lebih cerah merona akan
terlihat ‘seolah’ lebih putih.
Kenapa gua jadi sotoy bak ahli dermatology, ya? Ahaha
They have cute yet friendly dialect
Tingkat kecantikan dan kegantengan itu
juga bertambah karena didukung karakteristik bawaan khas orang Sunda, salah satunya yaitu
tutur bicara yang sopan, ramah, dan logat khas Sunda yang agak mengayun… Err.
Apa ya istilahnya. Mendayu-dayu(?) Pokoknya dengerin deh orang Sunda yang masih
kental logatnya kalau lagi ngomong. Terkesan ramah dan kadang ada juga yang
jadi kedengaran jenaka (apalagi kalau emang lagi ngelawak atau ngambek ala2,
kalo gue dengernya jadi tambah lucu)
Pengucapan logat Sunda yang lebih
‘bergelombang’ itu berbeda dengan pengucapan logat Jawa yang lebih ada ‘penekanan’.
Walaupun kedua suku ini memang sama-sama lekat dengan stereotype kesopanannya
atau toto kromonya dan secara geografis sama-sama bermukin di Pulau Jawa. Fyi, Kalau orang
Jawa yang saat berbicara masih kental logatnya sering disebut Jowo medok (medok=kental)
So, kesimpulannya...
Ladies bisa terkesan bin terbuai dengan keramahan, ketampanan, dan
humorisnya sang Jajaka dari tanah Pasundan.
Para gentlemen mungkin tergoda
dengan kesopanan, suara mendayu-dayu(?) nan lembut dan paras putih ayu nan
sendu dari si Mojang Priangan.
Konon katanya yaaa…
Seperti ituuh *ala Syahrini*
Betul begitu, sodara-sodara?
Gue pun so far belum pernah terpikat
cowok Sunda *thinking* Tapi, bisa jadi juga….
…Soalnya, jodoh dan jatuh cinta itu gak
melulu spesifik terfokus ke suku bangsa atau ras tertentu #Eeeaaa
Tulisan ini muncul karena fenomena Dilan + hasil riset kilat via mbah Gugel
Review Film Dilan 1990 kapan-kapan aja ya (kalo inget), karena gua lagi
males posting yang kepanjangan *sleepy eyes* (=__=)
Fyi lagi,
Waktu post ini, demam Dilan udah agak mereda, sih







0 comments:
Post a Comment
Komentar Anda